LATE
.
.
.
.
.
Cast : Oh Sehun x Xi Luhan
Genre: Sad, Romance
Rate: T
Length: 1shoot?
Author :Jungiee
.
.
.
.
Penyesalan membuatku ingin memutar waktu dan
membenarkan perasaan ini walaupun terlarang.
.
.
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Apakah
perasaan cinta itu terlarang? Tentu tidak! Jika kita punya perasaan pada lawan
jenis itu. Namun, jika kita mempunyai perasaan cinta pada sesama jenis itu
masih bisa dikatakan wajar? Oh aku taktau!
.
.
.
.
.
.
.
Seorang namja duduk diatas rumput rumput
hijau. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, jelas matanya terlihat kosong.
Kemudian melihat sekeliling tempat tersebut. Memang benar, tak sedikitkan
remaja saat ini yang terjerumus hal hal negatif? Sekelilingnya terdapat
beberapa orang namja seumurannya yang sedang mengerayangi seorang gadis. Oh itu
menggelikan. Harusnya ingat tempat –pikirnya-
Ah, ingatkan aku tentang namja itu. Dia
Oh Sehun, namja yang sedari tadi duduk duduk diatas rumput hijau. Dia masih
kelas 3 Junior High School, mungkin dulu memang seumuran Oh Sehun belum mengenal apa itu perasaan cinta, atau
bahkan hal yang berbau ‘sex’ pun mereka taktau. Lain dengan remaja Sehun saat
ini. Dan untung saja seorang Oh Sehun bisa menghindari dari hal hal yang aneh
seperti itu. Mengalami hal seperti
‘Cinta Pertama’ pun Sehun belum merasakannya juga.
“Sial. Mereka mengotori mataku” Sehun
berdecak sebal melihat hal yang diliatnya, banyak orang orang berciuman, itu
sangat menjijikan jika ditempat umum. Oh ayolah dia sangat risih melihat hal
hal seperti itu sedari tadi.
Sehun pun beranjak dari duduknya, hal
hal tadi membuatnya enyah. Ia pun berlari kecil dan tanpa sengaja menabrak
seseorang. “Maaf, aku tak melihat.” Ucap seseorang yang tadi bertabrakan
dengannya. “Oh tak apa.” Sehun pun kembali berjalan, namun dengan langkah biasa
tanpa memperdulikan orang tadi.
Orang tadi menatap punggung Sehun yang
makin lama semakin menjauh. “Sepertinya orangnya dingin” dia mengedikkan
bahunya kemudian pergi.
.
.
.
.
.
.
“Anak-anak, Kalian anak mempunyai teman
baru dari China. Luhan, kajja masuk.” Ini yang paling Sehun tak inginkan, anak
baru merepotkan menurut Sehun. Anak baru itu seperti parasit menurut Sehun.
Anak baru juga selalu ingin tahu segala hal tentang semua temannya pikir Sehun
pula.
Seorang namja berparas manis memasuki
kelas tersebut sambil tersenyum hangat. Ini pertama kali dia masuk ke kelas,
setidaknya tak menciptakan image buruk dimata teman temannya. “Annyeong, Luhan
imnida. Aku pindahan dari Beijing tapi sejak kecil aku berada di Seoul bersama
mendiang ibuku, senang berteman dengan kalian” Luhan pun tersenyum. Ada satu
hal yang kini detik ini menjadi pusat perhatiannya –Seseorang diujung sana yang
entah mungkin mengacuhkannya atau juga tertidur- jelas jelas dia mengenali
wajah itu.
“Lu, kau boleh memilih tempat duduk yang
kosong. “ Ucap Jung Saem pada Luhan. Luhan mengangguk dan kemudian memilih
tempat kosong disebelah orang yang jelas tadi Luhan perhatikan. “Emm.. boleh
aku duduk disini?” Luhan hampir duduk, “Kau belum—“ “Sehun” Belum Sehun
melanjutkan perkataannya, Jung sosaengnim membentaknya.
Luhan POV
Hari pertama disekolah baru memang
melelahkan. Mungkin memang aku beruntung juga disini karna suasana kelas yang
sama seperti sekolahku yang dulu. Mereka baik, kadang juga bertingkah lucu,
kkk.. Aku jadi ingat disekolah dulu, Kris yang menjadi moodmaker kelas kkk..
Walaupun tampangnya menyeramkan Kris orangnya lucu. Ah, iya aku hampir lupa
menanyakan sesuatu pada orang disebelahku. “Kau yang bertabrakan denganku
kemarin?” tanyaku. Dia masih asik memejamkan mata sambil mendengarkan lagu
melalui earphone, memang sekarang jam kosong samppai dia bisa mendengarkan
music seperti itu.
“Hei.. kau mendengarkanku?” Aku bertanya
kembali. Tak ada pergerakan darinya. “Baiklah, aku tak memaksa kau menjawabnya.
Ah ya, aku belum menganalmu.” Ucapku lagi. Namun masih belum ada pergerakan
darinya. Memang dingin..
“Oh Sehun” Akhirnya dia membuka mulut.
Aku tersenyum ceria mendengarkan suaranya. “Xi Luhan, senang berkenalan
denganmu Sehun” Dia hanya membalas dengan sebuah deheman dan kemudian focus
pada hal yang sedari tadi ia kerjakan.
.
.
.
.
.
“Bagaimana hari pertamamu, Lu” Nenekku
mengusap lembut surai rambut. Aku tersenyum kemudian melirik kepadanya. “Sama
seperti di Beijing nek, jadi aku tak perlu terlalu berdaptasi.” Ucapku kemudian
melanjutkan melukis. “Apa ada orang yang menyakitimu?”
Ingatlah kembali aku dengan Oh Sehun.
Dia menyebalkan, tapi menurutku menarik.
Dia juga tampan, berbeda terbalik denganku yang menurut orang orang yah
–cantik- untuk ukuran namja. Kadang aku iri pada orang orang yang tampan, dan
hidupnya bahagia, itu saja.
“Sebenarnya tidak ada, nek. Hanya saja,
aku selalu memperhatikan satu orang yang menarik tadi.” Aku tak pandai berbohong pada semua orang.
“Oh bagus, kau mungkin menyukainya, Lu”
Degg
Mencintainya, oh itu tidak mungkin, nek.
Aku tak mungkin mencintai seorang Oh Sehun yang sama sama lelaki sepertiku.
Sama sama normal sepertiku.
Aku hanya mengulas senyum pada nenekku.
Ini menyebalkan, lidahku kelu untuk berbicara apa apa, bahkan yang hanya mempunyai
jawaban ‘Ya atau Tidak’ itu. Tapi sungguh, pertanyaan itu sangat aneh. Aku tak
mungkin menyukainya jika dilihat dari jenis kami –pikirku-. Entah kenapa
sepertinya aku ingin mengenalnya lebih dekat, itu masih wajar kan? Tentu.
Author
POV
“Hai, Lu” Seseorang memanggil Luhan saat
akan memasuki kelas, yang Luhan ingat dia bernama ‘Baekhyun’ teman sekelasnya
yang seorang gay –menurut teman teman Luhan- “Oh hai” Luhan tersenyum kemudian
sedikit melihat kearah Baekhyun. “Bagaimana kemarin? Apa dikelas kita
menyenangkan, Lu?” “Humm…” Luhan mengangguk semangat. “Mungkin disini keadaan
kelas memang kacau, tapi ingatlah kita menyenangkan” Baekhyun pun berjalan
menuju tempat duduknya. Dan tanpa sadar Luhan sudah duduk dikursinya, melirik
ke samping, namun Luhan tak menemukan sosok yang ia cari.
Seorang namja berpakaian seragam lengkap
dibalut jaket yang lumayaan membuatnya terkesan tampan dimata yeoja itu pun
duduk di sebelah Luhan.
Degg
“Perasaan apa ini?” Batin Luhan.
Degg
“Aku tak menyukainya, kumohon” Batin
Luhan.
“Hh—hai Oh Se—hu” Luhan tak mampu
mengucapkan kata kata dengan lancar. Ia mengutuk dirinya sendiri. Mengapa ia
jadi begini –pikirnya- “hngg..” Sehun duduk lalu seperti menutup telinganya
dengan sebuah earphone sambil menutup mata.
Luhan mendengus “Aku baru 2 hari disini,
kau bahkan tak mau sekalipun simpati kepadaku.” Luhan tersenyum pahit. Sehun
membuka matanya melihat orang yang berbicara padanya tadi –Luhan-. Bahkan Sehun
baru melihat Luhan dengan intens hari dan detik ini
Degg
“Apa-apaan ini?” Batin Sehun.
Sehun pun mengalihkan pandangannya dari
arah Luhan. Mencari sesuatu yang menarik untuk dilihat. Yang jelas, sekarang
Sehun tak tau kenapa, hatinya berdebar saat melihat Luhan. “Bbai—“ “Lu, nanti
istirahat kau ikut bersamaku ya.” Baru saja Sehun akan menjawab ucapan Luhan
tadi, seseorang memotong perkataannya membuat Sehun mengurungkan niatnya untuk
melanjutkan kata katanya. Sungguh, Sehun juga ingin mengenal Luhan lebih saat
ini, bahkan mengenal Luhan lebih dari siapapun.
.
.
.
.
.
.
Luhan membolak balikkan sebuah album
foto, dimana album foto itu banyak foto
Luhan bersama eommanya. Ia bisa membayangkan jika eommanya masih hidup mungkin
akan bahagia. “Bogoshippo eomma, hikks” Pepatah mengatakan seorang lelaki itu
harus tegar, tapi Luhan bukan orang yang pandai menyembunyikan perasaannya,
jika ia sedih, ia juga akan memangis, sama seperti orang lain yang seperti
Luhan. “Eomma, hikks.. Aku berjanji sebentar lagi hikkss.. menyusulmu..”
“Lu, kau jangan berkata seperti itu.”
Seseorang membuka knop pintu Luhan, menghampiri Luhan dan memeluknya. “Kau
masih mempunyai masa depan yang baik, nak” Orang itu –nenek Luhan- mengusap
surai Luhan. “Jika semua orang tak merasakan aku ada disana, mungkin lebih baik
aku pergi.” “Lu..” nenek Luhan membentak Luhan, dia sangat kesal jika Luhan
sudah mengeluh seperti ini. Semenjak eommanya meninggal, semenjak itu pula appa
Luhan sangat frustasi dan mengacuhkan juga sering mencelakai Luhan, semenjak
eommanya meninggal juga appa nya semakin liar. Itu pula alasan Luhan ikut
neneknya ke Seoul. Ia sudah tak tahan dengan sikap appanya yang kelewat batas,
saat masih di China sesudah eommanya meninggal pula ia merasa tak dianggap.
Setelah di Seoul, Luhan bertemu dengan
Sehun. Luhan pikir dia bisa menjadi orang yang mengembalikan semangatnya
seperti dulu, saat eommanya masih ada. Luhan tau, sangat tau ia sifat Sehun
yang diliat dari semuanya, walaupun terlihat dingin depannya. Namun ternyata
kenyataan tak mendukung Luhan.
(other
side)
“Aku
baru 2 hari disini, kau bahkan tak mau sekalipun simpati kepadaku.”
Sebuah kalimat, kalimat yang Luhan
ucapkan yang diingat oleh Sehun saat ini. Sungguh, hati Sehun berkecamuk, dia
pikir dia merasa hatinya berdebar saat melihat Luhan setelah mengatakan kalimat
itu tapi otaknya melarangnya hingga kata
hatinya yang lain berkata harus menjauhinya. Sungguh, Sehun rasa perasaan ini
aneh. Ataukah ini benar benar perasaan cinta? Menggelikan sungguh. Cinta
pertama Sehun yang harus kepada sesame jenis.
“Hei, Hun. Kau melamun?” Seseorang
menepuk pundak Sehun. “Chanyeol hyung, kau mengagetkanku.” Chanyeol cekikikan
“Oh, adik kecilku ini sedang melamunkan seseorang, ne?” TEPAT sekali kau
hyung–pikir Sehun- “Untuk apa memikirkan seseorang, aku masih punya kegiatan
lain yang lebih berguna hyung. Tak sepertimu yang hanya memikirkan seorang
yeoja sexy sexy itu..” Sehun mencibir. “Ckk.. jangan mengelak kau Oh Sehun adik
kecilku.” “Hyung, aku sudah besar, jika kau hanya ingin bermain main denganku
keluar saja dari kamarku.”
“ckk.. sensitive sekali kau Hun. Kau
sedang jatuh cinta?”
“Oh hyung kumohon, itu tidak ada
hubungannya.”
“Pfftt.. jika kau jatuh cinta lebih baik
kau ungkapkan saja dahulu, sebelum orang itu menjadi milik orang lain, kau
mau?” Setelah itu Chanyeol keluar dari kamar Sehun. “Mengganggu saja.” Gerutu
Sehun.
.
.
.
.
.
.
“Hai Sehun” Sapa Luhan saat Sehun
memasuki pintu kelas sambil menyodorkan sebuah makanan, makanan untuk nanti
istirahat Sehun–pikir Luhan-. Setiap hari, Luhan bangun pagi dan berangkat pagi
ke sekolah hanya untuk menyapa Sehun dengan hangat. Itu berlebihan, sungguh. Sehun
diam di tempat Luhan saat itu, namun tanpa melihat Luhan“Berhentilah seperti
itu, Tuan Xi” “Ap—apa? Berhenti?” Sehun melirik Luhan, sebenernya ia tak tega
mengatakan ini. Namun, lebih baik jika ia menghentikan Luhan berlebihan
padanya. “Hngg.. kau mengganggku.Dan, lebih baik kau juga pindah dari tempat
dudukmu saat ini”
Luhan tak percaya apa yang Sehun
katakan, ia pikir dengan ini Sehun akan lebih dekat dengannya, “Bba..baiklah,
jika itu maumu Oh Sehun. Aku akan duduk dengan Baekhyun diujung sana” Luhan
tersenyum palsu, matanya berlinang. Sementara Sehun kemudian duduk di tempatnya
duduknya.
Sepanjang pelajaran, Sehun tak bisa
konsentrasi, matanya terus tertuju pada Luhan yang ada di ujung sana. Sehun
juga melihat Luhan sempat menyeka airmatanya, ia tau Luhan sakit, amat sakit,
Sehun juga begitu, tapi Sehun berusaha menjauhi Luhan terus agar perasaan
terlarang itu bisa hilang. Sehun tak ingin menjadi abnormal seperti ini hanya
karena cinta. Sehun yakin perasaan itu perasaan cinta, tepatnya cinta pada
sesame, dan itu terlarang.
.
.
.
.
.
.
Sebuah kuas kali ini menemani Luhan.
Hati Luhan berkecamuk mengingat perlakuan Sehun di sekolah tadi. Luhan melukis wajah Sehun yang sedang
tersenyum, dan Luhan pun tersenyum pahit.
“kau
mengganggku.Dan, lebih baik kau juga pindah dari tempat dudukmu saat ini”
“Oh Sehun, apa aku mengganggumu selama
ini?” Luhan memandang datar lukisan wajah Sehun ciptaannya sendiri, Luhan sedih
saat ini. “Oh Sehun, kau benar benar tak menyukaiku? Sungguh?” Kali ini mata
Luhan sedikit berlinang. “Oh Sehun…” Luhan sudah tak bisa menahan tangisnya
“Aku mencintaimu, hikkss..”
.
.
.
.
(other side)
Sehun memandangi langit langit kamarnya.
Sama seperti Luhan, hatinya berkecamuk, ia bingung apakah tetap mempertahan
perasaan yang ia sebut ‘perasaan terlarang’ ini, atau menghilangkah semua perasaannya
ini. “Luhan maafkan aku.”
.
.
.
.
.
Seperti biasa Sehun setiap istirahat
pergi ke danau di dekat sekolah. Hanya ditempat ini ia bisa tenang. Ditempat
ini pula Sehun bisa merenung atas semua pikirannya. Namun, hari ini sepertinya
tidak, Luhan melihat Sehun duduk di dekat danau itu kemudian menghampirinya dan
duduk. Luhan menyodorkan sebuah kotak makan, namun Sehun hanya menatap kotak makan
itu. “Ayo ambil, kau tak membawa bekal kan?”
Sehun pun mendorong tangan Luhan (?)
tanda menolaknya. “Sekali saja kau terima makanan dariku, Oh Sehun. Aku tak
meminta lebih.” Sehun pun memutar badannya berhadapan dengan Luhan “Kenapa kau
melakukan semua ini?” ucap Sehun dingin. Luhan diam, tapi sebuah perkataan
bodoh ia ucapkan “Aku menyukaimu, Oh Sehun. Aku mencintaimu dari awal.”
“Hentikan, perasaan bodoh itu Xi Luhan.”
Sehun sebenarnya ingin mengatakan ‘aku juga mencintaimu’ namun entah kenapa kata
kata itu terlontar di mulut Sehun. “Ini tidak bodoh, Oh Sehun. Aku mencintaimu,
sangat tulus. Aku tak memandang siapa kau, ataupun kau adalah seorang yeoja
atau namja aku tak perduli”
“Lu—“ “ AKU MENCINTAIMU OH SEHUN APA KAU
TIDAK MENDENGARNYA” Entah apa yang Sehun pikirkan hingga ia menampar Luhan.
“Aku membencimu, jangan dekati aku lagi.” Ucap Sehun kemudian pergi dari sana.
Luhan terisak, ia tau ini bodoh sampai Sehun sangat lebih berbuat kepadanya
saat ini.
.
.
.
.
.
.
Luhan menangis di kamarnya, ia sudah tak
sanggup untuk berada di dunia. Ia ingin bahagia, ia ingin bahagia saat ini.
Eommanya meninggal membuatnya sangat terpuruk, dan ketika semangatnya kembali
karena seseorang, seseorang itu malah mengacuhkan Luhan dan menganggap Luhan
bodoh. Luhan pun menulis sebuah surat, kemudian ia mengemasi seluruh pakaiannya
dan berjalan pergi dari kamarnya dengan pelan.
Luhan tak tau sekarang menuju kemana, ia
belum hapal kota Seoul, jadi ia berjalan dengan keinginan kakinya. Ia
mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri saat akan menyebrang jalan,
namun..
“Aaaaaaaahhhh….”
Sebuah truk besar berkecepatan tinggi
melaju dari arah kiri dan menabrak Luhan. Luhan terpental dan kepalanya
terbentur tiang. Tapi si pengemudi truk itu kemudian melarikan diri. Di keadaan
yang sepi seperti ini, tak mungkin ada yang meolong Luhan.
.
.
.
.
.
Sehun melirik jam tangannya, sebentar
lagi pelajaran pertama dimulai, tapi Luhan belum muncul sampai sekarang. Ia
berniat ingin meminta maaf pada Luhan, tentang semua sikapnya selama ini, dan
ia juga tak ingin membantah perasaan bodoh itu, ia ingin perasaan bdoh itu
menjadi manis dari sekarang.
“Kemana dia?” Sehun bertanya Tanya dalam
hati.
Sesaat kemudian, Park sosaengnim datang
ke kelas itu, Park sosaengnim menangis. Hey ada apa ini –pikir Sehun- Ia
merasakan sesuatu yang tidak beres.
“Luhan kemarin tertabrak sebuah truk,
dan ia tewas.” Sehun kaget, disaat ia akan meminta maaf pada Luhan dan mengakui
perasaannya, Luhan sudah tiada. Ini bukan lelucon, sungguh. “Ia ditemukan oleh
warga sekitar.” Sehun sudah sangat kaget, ia menghampiri Park saem “Katakan
dimana rumahnya, saem, kumohon.” Sehun mengguncang guncangkan kedua tangan
saemnya itu. “Ia sedang dimakamkan di pemakaman umum.”
Sehun sudah hilang kesabarannya, ia
keluar kelas dan berlari sangat kencang, ia bersalah, sangat bersalah pada
Luhan.
Saat Sehun sampai, ia melihat seorang
yeoja paruh baya sedang memeluk salah satu nisan disana. Sehun yakin itu nisan
makam Luhan dan menghampirinya perlahan.
“Lu…” Sehun terduduk di samping yeoja
paruh paya itu. “Lu…Luhaan..” Sehun menangis, sungguh cinta pertamanya hilang
karenanya sendiri. Sehun ingin memutar waktu, dan membenarkan semua perasaannya
dari awal.
“Kau..hukkss..Oh Sehun..Ini”
Yeoja paruh baya itu menyodorkan sebuah
surat pada Sehun.
To:
Oh Sehun
Cinta
itu memang indah ya? Tapi mengapa semuanya terbalik untukku. Kau bisa menjawab
Oh Sehun? Awalnya aku memang tidak merasa tertarik pertama bertemu padamu,
kkk.. Tapi, saat dikelas itu aku merasakan sesuatu yang hangat darimu, dan
itulah alasanku terus mendekatimu. Aku ingin mendapatkan kehangatan lagi,
seperti saat eommaku masih ada di dunia ini. Saat itu juga aku berharap kau
yang akan memberikan satu kehangatan itu.
Entah
mengapa satu perasaan muncul. Awalnya kuanggap itu perasaan biasa karna kita
sama sama seorang namja. Aku juga belum merasakan cinta pertama jadi kuanggap
saja perasaan biasa. Bodohnya aku, sampai sampai tak menyadari satu perasaan
itu itu, perasaan cinta. Namun, apa yang kau balas? Kkk.. Tapi, aku tetap
mencintaimu, Oh Sehun. Bahkan sampai maut menjemputku pun. Maafkan aku, mulai
saat ini aku akan pergi dari kehidupanmu, aku juga pergi dari rumah kkk..
selamat tinggal, sampai bertemu.
PS:
Kau menerimanya dari nenekku?
“Bodoh kau..” Sehun menggumamkan sebuah
kata sesudah membaca surat dari Luhan. “Aku juga mencintaimu Xi Luhan” Sehun
menangis sejadi jadinya. Ia sadar, apa yang hyungnya katakana itu benar ‘Jika
kau mencintainya, katakana saja’ dan itu berlaku bagi Sehun. Ia terlambat
mengungkapkan perasaannya pada Luhan yang sudah jauh disana.
.
.
.
.
.
FIN
Gimana?
Jelek? Hoho..maafkan Jungiee, ini ff paling abal yang Jungiee buat, sad nya
juga nggak nge feel kan? Sekali lagi maafkan Jungiee dan kegajean ff ini. Yang
baca review oke?
REVIEW!!
Ini Adalah FF kepunyaan kakak kelas ku hehehe.. Mudah-mudahan post berikutnya muncul ff ku.. Hehee.... Coment ne^^ aku benci sider.. Gomawo :*
Dan kalo mau baca ff lain dari Jungiee ini sitenya https://www.fanfiction.net/~jungiee

Tidak ada komentar:
Posting Komentar